Raja Tanpa Istana, Pengembara Tanpa Arah
Namanya Roy, lelaki berkacamata dengan wajah teduh dan kata-kata lembut yang mudah membuat siapa pun merasa istimewa. Ia bukan orang jahat—ia hanya tidak pernah tahu bagaimana caranya bertahan pada satu hati.
Ia mencintai banyak wanita.
Mungkin bukan cinta yang besar, tapi cukup untuk membuat mereka berharap.
Dan ketika hubungan itu retak, Roy pergi…
Ia meninggalkan luka yang sebenarnya tidak pernah ia maksudkan. Namun, luka itu tetap ada.
Pada akhirnya, ia dikenal sebagai pria yang pernah singgah di seratus hati.
Meski begitu, di balik semua cerita itu, Roy hanyalah seorang lelaki yang takut pada sepi. Ia terlalu takut untuk menetap. Ia juga terlalu takut untuk benar-benar dicintai.
Munculnya Seorang Wanita yang Berbeda — Auryn
Suatu sore, ketika senja merayapi langit, Roy bertemu Auryn.
Wanita yang tidak mendekatinya dengan pujian, tidak memujanya, tidak terpesona oleh rayuannya.
Auryn memiliki cara bicara yang lembut, namun terasa tajam. Tatapannya jujur, tetapi sulit ditebak.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
ketenangan… dan ketakutan yang indah.
Ia ingin tinggal. Ingin berhenti mengembara.
Seolah dunia berhenti bergerak ketika ia duduk di samping Auryn.
Auryn berkata kepadanya:
“Aku tidak ingin menjadi sekadar persinggahanmu.”
“Kau tidak akan,” jawab Roy. “Tidak untukmu.”
Dan untuk sekali dalam hidupnya, Roy benar-benar berusaha menepati janji.
Cinta Roy yang Mengubah Segalanya
Malam-malam Roy kini di habiskan bersama Auryn membaca buku di bawah lampu temaram, bercakap tentang masa depan, tertawa mengenai hal-hal kecil.
Auryn membuat Roy mengenal versi dirinya yang lebih baik.
Ia mulai berani membayangkan kehidupan yang sederhana, mungkin sebuah rumah kecil, atau sekadar pagi yang tidak ia jalani sendirian.
Namun, yang tidak ia ketahui adalah
Auryn mengetahui semuanya.
>Semua nama yang ia tinggalkan.
>Semua hati yang dia hancurkan.
Dan Auryn menyembunyikan sesuatu yang tidak kalah besar:
Ia sendiri adalah salah satu hati yang pernah Roy tinggalkan bertahun-tahun lalu…
ketika ia masih terlalu muda untuk di sadari Roy.
Hanya saja Roy tidak mengingatnya.
Tetapi Auryn mengingat setiap detik yang ia habiskan untuk menunggu penjelasan…
yang tidak pernah datang.
Luka yang Tidak Pernah Sembuh
Suatu malam, saat Roy tertidur di pangkuannya, Auryn memandangi wajah lelaki itu.
Betapa ironis lelaki yang dulu menghancurkan dirinya kini menjadi satu-satunya orang yang membuatnya merasa hidup.
Ia menangis tanpa suara.
“Mengapa baru sekarang kau kembali padaku?”
“Mengapa bukan dulu, ketika aku mencintaimu tanpa syarat?”
Auryn terjebak antara dua pilihan yang sama-sama menyakitkan:
-
Mengampuni Roy dan menjalani hidup bersamanya
-
Atau membiarkan luka lamanya menuntut balasan
Dan di hatinya, pertarungan itu semakin sering terjadi.
Pengakuan Roy yang Terlambat
Pada hari hujan, Roy membawa Auryn ke sebuah jembatan tua.
Ia menggenggam kedua tangannya dan berkata dengan suara yang gemetar:
“Auryn… kau adalah alasan aku ingin berubah.
Aku ingin hidup bersamamu.
Jika kau izinkan… aku ingin memperbaiki semua yang pernah aku hancurkan.”
Auryn menatapnya.
Ada cinta.
Ada rindu.
Dan ada luka yang masih menganga.
Namun Roy tidak melihat luka itu karena ia terlalu sibuk mencintai.
Auryn membalas pelukannya… tetapi dalam hatinya, sesuatu retak.
Akhir yang Tidak Pernah Ingin Terjadi
Malam itu, mereka duduk di tepi danau.
Roy menyandarkan kepalanya di bahu Auryn, mengucapkan kata-kata yang membuat hati Auryn semakin hancur:
“Kau adalah wanita terakhir yang akan pernah kucintai.”
Kalimat itu seharusnya indah.
Namun bagi Auryn, semua itu hanya menjadi pengingat. Ia pernah menjadi wanita yang terlupakan. Wanita keseratus, atau entah yang keberapa dalam daftar Roy.
Dan luka lama yang ia pikir bisa hilang kini kembali terbuka seutuhnya.
Dalam tangis sunyi, ia berbisik:
“Kenapa kau baru mencintaiku sekarang… saat aku sudah terlalu patah?”
Roy menatapnya dengan bingung namun sebelum ia sempat berbicara, Auryn memeluknya erat… terlalu erat.
Di tengah pelukan itu, dengan tangan yang gemetar, ia mengakhiri hidupnya.
Tanpa kemarahan.
Tanpa kebencian.
Hanya cinta yang tercampur dengan luka yang tidak pernah sembuh.
Roy pergi dalam pelukan wanita yang paling ia cintai
dan wanita yang paling ia sakiti tanpa ia sadari.
Cinta yang Tertanam di Dalam Luka
Auryn di temukan duduk di tepi danau esok paginya, memegang Roy seperti seseorang yang memeluk kenangan.
Ia tidak kabur.
Tidak berteriak.
Tidak menangis di hadapan dunia.
Ketika di tanya mengapa ia melakukannya, Auryn hanya menjawab:
“Karena aku mencintainya… lebih dari yang bisa di tanggung hatiku.”
Roy menjadi legenda romantis yang tragis:
Seorang lelaki yang pernah menaklukkan banyak hati. Namun pada akhirnya, ia runtuh oleh satu-satunya hati yang ingin ia jaga.
Dan Auryn…
menjadi simbol cinta yang terlalu dalam, terlalu sakit, dan terlalu terlambat untuk di selamatkan.





